PALEMBANG CEMERLANGSOSOK

Palembang Cemerlang Bersama Cak Dadang

Selepas dari masa Kerajaan Sriwijaya, Palembang  pun berangsur-angsur jatuh ke tangan penguasa-penguasa lainnya seperti Colamandala (India), Singasari, Majapahit, hingga akhirnya di bawah kekuasaan Demak. Palembang  yang berada di posisi strategis perdagangan internasional menjadikannya sebagai sebuah kota pelabuhan  perdagangan yang maju dan sejahtera pada sekitar abad ke-16.

Tome Pires seperti dikutip oleh Ricklefs dalam bukuSejarah Indonesia Modern mencatat trayek-trayek utama dalam perdagangan dari dan ke Malaka salah satunya adalah Malaka-Pantai Timur Sumatera yaitu Palembang. Melihat kebesaran Palembang kala itu, Dadang Apriyanto, MM, Pelopor gerakan Palembang Cemerlang menggagas sebuah pemikiran untuk menjadikan kota berjuluk kota tertua tersebut dapat menyongsong kejayaan seperti masa silam

” Melibatkan semua golongan,lapisan masyarakat, agama, suku budaya, kaum muda maupun tua , Saya yakin dan percaya kita bisa membawa Palembang lebih kedepan. Bukan sekarang tidak baik ya, tapi kita punya impian bagaimana Palembang jauh lebih maju di masa yang akan datang, “ ujarnya.

Perlu di ingat kata Dadang, Kesultanan Palembang yang didirikan sejak 1659 akhirnya dihapuskan oleh pemerintah Hindia Belanda sejak 1823 menyusul kekalahan Sultan Mahmud Badaruddin II dalam pertempuran melawan Belanda dua tahun sebelumnya. Keputusan Belanda untuk menghilangkan Kesultanan Palembang tidak hanya memiliki arti berdirinya kuasa kolonialis-imperialis Belanda namun juga menjadi kesempatan besar untuk dapat mengeksploitasi kekayaan alam maupun manusia di Sumatera Selatan.

“  Saya rasa sekarang pun tidak ada bedanya ya. Yang membedakan,  hanya dimanah kalau dulu kaum penjajah memiiki hasrat untuk menguasai kita. Sekarang  kekuasaan justru dibagi untuk kepentingan pribadi, golongan maupun keluarga. Itu yang membuat keadilan sosial rakyat tidak benar-benar merata, “ katanya seraya menyebut gerakan Palembang Cemerlang adalah bagian dari kebangkitan umat yang memiliki hasrat untuk berjuang bersama- maju semua.

Baca Juga  IBU Di Mata Seorang Masayu Nurul Huda

Palembang Cemerlang kata Cak Dadang, adalah cara pandang Islam dalam memahami konsep kekhalifahan pasca-wafatnya Baginda Rasulillah SAW yang beberapa kali mengalami perubahan. Pengangkatan Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq merupakan representasi dari pemerintahan yang dibentuk atas dasar musyawarah mufakat (al-syura) sebagai cikal bakal demokrasi. Sementara itu pengangkatan khalifah kedua, yakni khalifah Umar ibn Khathab, merupakan representasi dari sistem monarki absolut, karena dilakukan melalui penunjukan dan penobatan.   Saat khalifah ketiga hendak diangkat, mulai muncul istilah ahl al-halli wa al-‘aqdi yang ditunjuk oleh sahabat Umar ibn Khathab agar melakukan persiapan guna melangsungkan suksesi kepemimpinan. Imam al-Suyuthy dalam Tarikhu al-Khulafa dan Syeikh Ramadhan al-Buthy dalam Fiqh al-Sîrah al-Nabawiyyah ma’a Mûjiz li Târîkh al-Khilafah al-Râsyidah sering menyebut istilah Ahl al-Halli wa al-‘Aqd ini sebagai Ahl al-Syurâ. Penyebutan ini memiliki landasan bahwa mereka yang duduk dalam majelis AHWA yang berjumlah 6 orang sahabat, merupakan representasi dari upaya kompromi politik. Langkah kompromi ini dipilih agar tidak lahir friksi di kalangan umat. Hasil akhir dari kompromi politik ini adalah terpilihnya Sayyidina Utsman ibn Affan radliyallahu ‘anhu atau yang biasa dipanggil Dzu al-Nurain sebagai pemegang tampuk pimpinan kekhalifahan umat Islam, bergelar Amîr al-Mukminin, sebuah gelar yang disandang untuk kali pertamanya oleh Sayyidina Umar ibn Khathab dan dilanjutkan pada periode Utsman ibn Affan.

Jika ditelusuri lebih jauh, bahwa terpilihnya Sayyidina Utsman ibn Affan ini, secara tidak langsung telah terjadi pergeseran kembali pada sistem kekhalifahan. Yang asalnya dari Syura, berubah menjadi monarki, lalu ke sistem perwakilan (Ahlul Halli wal Aqdi). Saat Sayyidina Ali ibn Abi Thalib diangkat menjadi khalifah, sistem pemerintahan kembali berubah seolah menyerupai sistem teokrasi. Bahkan kemudian pasca terjadinya perjanjian Daumatu al-Jandal, yang berakhir dengan terbunuhnya Khalifah Ali Ibn Abi Thalib, sistem pemerintahan dalam Islam berubah drastis menjadi sistem mamlakah (Monarki Absolut) dengan tampilnya sosok Muawiyah ibn Abi Sufyan sebagai Khalifah dari Dinasti Ummayyah untuk yang pertama kalinya.   Berdasar catatan sejarah, sistem monarki absolut dengan ciri khas kekuasaan berlangsung turun-temurun ini bertahan hingga abad ke-19. Tumbangnya kekuasaan monarki absolut ini ditandai oleh runtuhnya kekuasaan Turki Utsmany. Sejak saat itu, sistem ketatanegaraan berubah drastis menjadi sistem negara bangsa (nation state) yang bertahan hingga saat ini.

Baca Juga  Sembuh Covid-19 di Palembang 26 Orang

“ Oleh seba itu maka, lahirnya sebuah gerakan Palembang Cemerlang adalah bukti nyata aspirasi perjuangan yang sangat menolak system politik dinasti. Karena Saya yakin masih banyak generasi bangsa ini yang merupakan putra asli daerah dapat mensumbangsikan hati, pikiran, jiwa dan raganya demi kemajauan daerah dan kesejahteraan masyarakat secara merata dan adil, “ ungkapnya

Editor : Abu Pasha

 

 

 

Close
Close