MOZAIK

Seorang Islam Haruslah Melindungi Saudaranya Se Iman

Terenyuh hati ini jika mendengar ada seorang sahabat yang beragama Islam tetapi suka membuat keresahan bahkan ketakutan kepada orang yang juga beragama Islam.

Sehingga, seorang sahabt itu tidak nyama dan aman bila bertemu atau sedang berkegiatan dalam lingkungan pergaulan mereka di masyarakat.

Ini tidak boleh terjadi. “Seorang sahabat Islam harus merasa aman dan nyaman didekat sahabat Islam lainnya. Mereka harus saling melindungi dan saling mengayomi, bahkan wajibkan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam lainnya bila mereka sedang dalam kondisi kekurangan,//”tegas Ustad Umar Said, dalam sebuah kajian dengan tema Sahabat dan Umat Islam, di Mesjid Al Furqon Palembang.

Umar mengatakan, dosa besar yang akan ditimpakan kepada seorang muslim bila dia tidak melindungi saudaranya yang muslim. Makanya, bila ada sekelompok umat Islam yang ingin berbuat kebaikan, maka wajib bagi saudaranya yang lain untuk melindungi dan membantunya dalam menempuh jalan yang benar tersebut.

Dalam sebuah tulisan seorang wartawan, Ali Farkhan Tsani, yang menjadi Redaktur Media MINA (Mi’raj Islamic News Agency), memberikan sebuah kajian dan pandangan yang diaperoleh selama meliput kejadian-kejadian dan polemic di timur tengah, membeberkan, betapa perang telah memorakporankan hubungan antar sesame muslim.

Mereka tercabik-cabik dari akar kekeluargaan yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW sejak dahulu kala. Merintih hati sebagai umat Islam akibat pertikaian yang peperangan yang diadu domba oleh barat yang hanya menginginkan hancurnya ekonomi dan peradaban bangsa yang didiami umat Islam di dunia.

Dia menuliskan sebuah perintah dari Allah yang menjelaskan, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman; Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.   Jika kamu (wahai umat Islam) tidak menjalankan (dasar bantu-membantu dan melindungi sesama umat Islam sendiri yang diperintahkan oleh Allah) itu, niscaya akan berlakulah fitnah (kekacauan) di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS Al-Anfal [8]: 73).

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa semua orang kafir meskipun berlainan agama dan alirannya, dari kalangan orang-orang musyrik, Nasrani, Yahudi dan sebagainya, bahwa meskipun antara mereka sendiri terjadi perselisihan dan kadang-kadang permusuhan, mereka semua itu adalah sama-sama menjadi kawan setia antara sesama mereka dalam berbagai urusan.

Sebagian mereka menjadi pemimpin, pelindung dan pembela bagi yang lain. Bahkan mereka bersepakat secara bersama-sama untuk memusuhi dan menyerang kaum Muslimin.

Ayat ini berkaitan dengan kondisi masyarakat di daerah Arab Hijaz, yang terdiri dari kaum Yahudi dan musyrikin. Orang-orang Yahudi sering mengadakan persekutuan dengan kaum musyrikin dan saling menolong dalam menghadapi kaum Muslimin. Bahkan  kerap kali mereka saling mengkhianati perjanjian dengan kaum Muslimin. Sehingga mereka diperangi oleh kaum Muslimin dan diusir dari kawasan Khaibar ke luar kota Madinah.

Baca Juga  Penemuan Jasad Pengacara Gegerkan warga Palembang

Di dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan, bahwa orang-orang kafir, sebagian mereka saling menjadi pelindung dan penolong bagi sebagian yang lain. Maka, jika kaum Muslimin tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, yakni melindungi kaum Muslimin dan bersama-sama menekan orang-orang kafir. Niscaya akan terjadi fitnah berupa kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. Hal ini karena jika kaum Muslimin tidak bersatu dan tidak saling menjaga, maka orang-orang kafir akan bertambah kuat sementara orang-orang Islam makin melemah keadaannya.

Jadi, wajiblah kaum Muslimin untuk senantiasa menggalang persatuan yang kokoh dan janganlah sekali-kali kaum Muslimin mengadakan janji setia kawan dengan kaum musyrikin atau mempercayakan kepada mereka mengurus urusan kaum Muslimin. Karena hal itu justru akan semakin membawa kepada kerugian besar atau malapetaka. Urusan kaum Muslimin hendaklah diselesaikan internal kaum Muslimin itu sendiri, rumah tangga kaum Muslimin sendiri, tidak melibatkan pihak-pihak luar Muslim.

Allah memperingatkan bila hal ini tidak diindahkan, maka akan terjadilah fitnah dan kerusakan di muka bumi. Sampai pun dalam memilih pasangan hidup, maka yang menjadi acuan utama adalah agamanya, yakni sesama Muslim, agar dapat saling menguatkan.

Seperti disebutkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar bin Mardawaih yang menceritakan, dari Abu Hatim al-Muzani, ia menceritakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda, yang artinya: “Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, maka terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, jika padanya terdapat sesuatu?” Beliau menjawab: “Jika kalian didatangi orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia.” (Beliau mengucapkannya tiga kali). (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Jadi, jika kaum Muslimin memberikan peluang bagi orang-orang musyrik dan tidak menjadikan orang-orang mukmin sebagai pelindung (pemimpin), maka akan terjadi fitnah di tengah-tengah umat manusia. Yaitu berbaurnya persoalan orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir. Sehingga hal itu menyebabkan kerusakan yang sangat besar dan lama di tengah-tengah umat manusia.

Sebab, kaum Muslimin landasan hidupnya, rujukan dalam menyelesaikan segala problematikanya adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Sementara orang-orang kafir dan musyrik landasannya adalah kepentingan politis masing-masing, yang sasaran akhirnya adalah memecah-belah dan menghancurkan kaum Muslimin.

Itulah sifat-sifat kaum beriman sebagaimana Allah sebutkan di dalam ayat : Artinya: “Nabi Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) ialah Rasul Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir yang (memusuhi Islam) dan sebaliknya bersikap kasih sayang serta belas kasihan sesama sendiri (umat Islam).

Engkau melihat mereka tetap beribadah ruku’ dan sujud, dengan mengharapkan limpahan karunia (pahala) dari Tuhan mereka serta mengharapkan keridhaan-Nya. Tanda-tanda yang menunjukkan mereka (sebagai orang-orang yang shalih) terdapat pada muka mereka dari kesan sujud (dan ibadat mereka yang ikhlas).

Baca Juga  Puasa Ramadhan Bisa Lebih Sehat Bila Dilakukan Secara Benar

Demikianlah sifat mereka yang tersebut di dalam Kitab Taurat dan sifat mereka di dalam Kitab Injil pula: (ialah Bahwa mereka diibaratkan) sebagai pokok tanaman yang mengeluarkan anak dan tunasnya, lalu anak dan tunasnya itu menyuburkannya, sehingga ia menjadi kuat, lalu ia tegap berdiri di atas (pangkal) batangnya dengan keadaan yang mengkagumkan orang-orang yang menanamnya. (Allah menjadikan sahabat-sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pengikut-pengikutnya berkembang serta kuat gagah sedemikian itu) karena Allah hendak menjadikan orang-orang kafir merana dengan perasaan marah dan hasad dengki dengan perkembangan umat Islam itu.

(Dan selain itu) Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih dari mereka, keampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Fath [48]: 29).

Pada ayat lain ditegaskan: Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kalian berpaling dari agamanya (murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka bersifat lemah-lembut terhadap orang-orang yang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orang kafir, mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; karena Allah Maha Luas limpahan karunia-Nya, lagi Meliputi Pengetahuan-Nya”. (QS Al-Maidah [5]: 54).

Pada ayat lain Allah juga menyebutkan: Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagiannya menjadi penolong bagi sebagian yang lain; mereka menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan dan mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah [9]: 71).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengemukakan: “Ada satu kaum yang Islam, mereka saling cinta-mencintai dengan ruh Allah padahal tidak ada hubungan sanak saudara, kerabat di antara mereka, serta tidak ada hubungan harta benda yang ada pada mereka. Maka, demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa di kala orang lain takut, dan mereka tidak berduka cita di kala orang lain berduka cita.” (HR.Abu Daud)

Semoga menjadi tadzkirah (peringatan) dan ibrah (pembelajaran) bagi kaum Muslimin untuk mempererat dan mempersatukan diri, menjadi saling membela, saling melindungi dan saling menolong. Sehingga keadaan kaum Muslimin semakin kuat, dan dijauhkan dari segala fitnah yang melemahkannya.()

Penulis: Bangun Lubis

 

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close