NASIONAL

Dokter Reisa Sebut Ancaman Covid-19 Masih Ada

Palembang cemerlang – Hingga Selasa (16/6/2020) ada 40.400 orang di Indonesia yang dinyatakan positif Virus Corona (Covid-19). 15.703 diantaranya sembuh dan 2.231 orang meninggal dunia.

Kendati demikian, masih ada masyarakat yang menanyakan kebenaran terkait adanya Covid-19.

Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dr. Reisa Broto Asmoro menegaskan bahwa ancaman Covid-19 benar ada disekitar kita hingga saat ini. Meski, tidak terlihat oleh mata.

Oleh karena itu, kita harus selalu tanggap, dan waspada, serta disiplin menerapkan protokol kesehatan.

“Dari pertanyaan-pertanyaan yang diterima oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, baik yang masuk melalui website di covid19.go.id, dan media sosial, ternyata masih banyak yang ingin memahami seluk beluk virus ini. Bahkan ada yang bertanya apakah Covid-19 benar-benar ada,” ujar dia dalam konferensi pers di BNPB, Selasa (16/6/2020).

Ia menjelaskan, Covid-19 adalah singkatan dari Corona Virus Disease 2019 atau penyakit menular yang disebabkan oleh salah satu jenis virus Corona, yang disebut SARS Cov-2. Virus ini pertama kali ditemukan pada bulan Desember tahun 2019 di Wuhan China.

“Virus Corona banyak jenisnya, dan biasanya ditemukan pada binatang. Tetapi, ada beberapa jenis yang bisa menginfeksi manusia. Contohnya, SARS di awal tahun 2000-an, dan MERS Cov di tahun 2012,” jelas dia.

SARS Cov-2 diumumkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi Covid-19 sejak 11 Maret 2020.

Virus Corona yang masuk ke tubuh seseorang, dapat menggandakan diri di dalam sel tubuh manusia. Terutama, di bagian saluran pernapasan bawah, seperti paru-paru.

Baca Juga  Kota Palembang Cemerlang Bersama Cak Dadang

Virus ini juga mengganggu imunitas atau kekebalan tubuh. Bagi mereka yang sudah memiliki penyakit penyerta, atau penyakit bawaan, seperti penyakit ginjal, diabetes, darah tinggi, akibatnya dapat menjadi fatal.

“Penyebaran virus dari satu manusia melalui percikan cairan yang berasal dari saluran pernapasan dan mulut, seperti buliran yang keluar saat batuk atau bersin, yang kita sebut sebagai droplets,” kata dia.

Selain melalui droplets, penularan Covid-19 juga bisa menular melalui perantara permukaan yang dipegang oleh orang yang positif Covid-19.

“Bahkan, ketika seseorang batuk atau bersin, atau bahkan berbicara, maka virus tersebut dapat keluar bersamaan dengan percikan liur atau cairan hidung,” jelas dia.

Apabila percikan tersebut tersentuh oleh tangan, atau jatuh di permukaan benda yang ada di sekitar kita, kemungkinan besar dapat menjadi sumber penularan bagi orang lain.

Terutama, apabila orang tersebut tidak menjaga kebersihan tangannya, lalu kemudian menyentuh bagian mata, hidung, dan mulut.

“Maka, penggunaan masker yang baik dan benar sangat dianjurkan, bahkan wajib pada masa pandemi ini,” ujar dia.

Selain itu, masyarakat juga harus rajin mencuci tangan menggunakan sabun atau dengan cairan pencuci tangan yang mengandung alkohol.

Terpenting adalah tetap menjaga jarak. Sebab percikan droplets atau air tersebut bisa mencapai jarak 1 hingga 2 meter. Bahkan, jika batuk atau bersin, jaraknya bisa sampai 3 sampai 5 meter.

Ia menjelaskan bahwa Covid-19 menjangkiti pasien pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020. “Alhamdulillah, pasien tersebut sembuh dan kini sehat dan dapat produktif kembali,” jelas dia.

Baca Juga  FBI  Tangkap WNA Buronan Tersangka Pedofil

Namun saat ini, hampir 8 juta orang di dunia terjangkit Covid-19. Penyebarannya merata di lebih dari 200 negara dan wilayah kedaulatan di seluruh dunia.

Penularan Covid-19 saat ini terjadi secara lokal. Mayoritas terjadi karena kontak dengan pasien atau dengan orang yang tidak diketahui status kesehatannya.

Reisa kembali menegaskan bahwa virus ini benar- benar ada di Indonesia “Saya perlu sampaikan, virus ini benar-benar ada saudara-saudari. Ilmuwan-ilmuwan kita dari LBM Eijkman, telah memetakan beberapa whole genome sequence atau WGS, alias merinci identitas virus dari pasien yang ada di Indonesia,” tutur dia.

Data ini bermanfaat untuk penelitian lanjutan demi mengetahui epidemiologi virus, pengembangan vaksin dan juga untuk obat antivirus.

Kepala Lembaga Eijkman, Professor Amin Subandrio juga mengatakan dengan mengetahui virus yang beredar, kita bisa mendesain vaksin yang sesuai dengan yang di Indonesia.

Maka dari itu, kata dia, penting sekali mengetahui status kesehatan kita. Apakah kita positif atau negatif Covid-19. Apabila positif, maka penyembuhan dapat dilakukan.

“Ingat, lebih dari 15.000 saudara-saudari kita sudah sembuh dari Covid-19. Jika negatif, kita harus makin waspada melindungi diri kita dari penularan virus Covid-19 oleh orang lain,” tegas dia.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk bersama- sama mencegah penularan Covid-19. “Kita putuskan penularan Covid-19 dan bekerja keras membuat pandemi cepat selesai. Kalau kita percaya, saya yakin, usaha kita akan berhasil, kalau kita semua saling bekerjasama hasilnya akan lebih cepat, dan terlihat. Kita pasti bisa, kok. Percaya, Indonesia pasti bisa,” tutup dia.(DAENG)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close